AROMA KASTURI KELUAR DARI HIDUNG JENAZAH WANITA SAAT DIMANDIKAN


Ummu ahmad ad-du’aijy berkata ketika ia ditemui Majalah Yamamah tentang kematian seorang gadis berusia 20 tahun pada kecelakaan kendaraan. Beberapa saat sebelum meninggal, ia pernah ditanya oleh familinya “Bagaimana keadaanmu ya fulanah ?”ia menjawab, “Baik, alhamdulillah”. Tetapi beberapa saat setelah itu ia meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya.

Mereka membawanya ke tempat memandikan mayat. Ketika kami meletakkan mayatnya di atas kayu pemandian untuk dimandikan, kami melihat wajahnya ceria dan tersimpul senyuman seakan-akan ia sedang tidur. Di tubuhnya tidak ada cacat, patah dan luka. Dan anehnya (sebagaimana yang dikatakan Ummu ahmad) ketika mereka hendak mengangkatnya untuk menyelesaikan mandinya, keluar benda berwarna putih yang memenuhi ruangan tersebut menjadi harum kasturi. Subhanallah… benar-benar ini adalah bau kasturi. Kami bertakbir dan berdzikir kepada Allah sehingga anakku sahabat si mayit menangis melihatnya.

Kemudian aku bertanya kepada bibi si mayit tentang keponakannya, bagaiman keadaannya semasa hidup ? Ia menjawab, “Sejak ia mendekati usia baligh ia tidak pernah meninggalkan sebuah kewajiban, tidak pernah melihat film, sinetron dan musik. Sejak usia 13 tahun ia sudah mulai puasa senin kamis dan ia pernah berniat secara sosial membantu memandikan mayat. Tetapi ia terlebih dahulu dimandikan sebelum ia memandikan orang lain. Para guru dan teman-temannya mengenang ketakwaannya, akhlaknya dan pergaulannya yang banyak berpengaruh terhadap teman-temannya baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal.”

Aku katakan, “Benarlah perkataan syair,

Detak jantung seseorang berkata kepadanya,
Bahwa kehidupan hanya beberapa menit dan detik saja. Baca lebih lanjut

AKHIR YANG BURUK


Temanku berkata kepadaku, “Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat.”

Disana aku melihat 4 wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan meminta aku agar menolongnya untuk memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya. “Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.” Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar.

Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah dikafankan, iamemanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang  masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (keniasaan penduduk mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun).

Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat dan menutup aurat tersebut.

Baca lebih lanjut

KECELAKAAN DAN KISAH DI DALAMNYA


Cerita kisah yang mengerikan dan aneh ini bukannya khayalan dan bukan juga dongeng. Ini adalah kisah yang diceritakan langsung oleh saksi mata. Kita nukil kisahnya dalam duka dan ceria.

Saksi berkata, “Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi yang hampir menabrak apa yang ada di jalan. Orang-orang melihat mobil tersebut dengan perasaan takut dan cemas. Sang supir kemudian menekan klakson dan menuju salahsatu perempatan jalan. Tiba-tiba mobil lain muncul berjalan dengan lambat dan hati-hati. Tetapi karena mobil pertama sangat kencang maka kedua mobil tersebut bertabrakan dan keduanya terbalik di tengah jalan. Semuanya terjadi dalam sekejap saja, diiringi dengan suara dentuman dan teriakan yang mengerikan.”

Lalu kendaraan lainpun berhenti di pinggiran jalan. Adapun kedua mobil tersebut karena kuatnya tabrakan terpental ke pinggir jalan, yang satu di pinggir sebelah kanan dan yang satu di pinggir sebelah kiri. Para pengemudi dan orang-orang yang melintasbergegas menuju kedua mobil tersebut untuk melihat kondisi pengemudinya dan berusaha memberikan pertolongan dan mengeluarkan korban dari dalam mobil jika memang memungkinkan. Setelah mereka sampai di mobil pertama, ternyata darah mengalir deras dari tubuh seorang pemuda yang terjepit pingsan di antara besi-besi dengan lumuran darah. Besi-besi itu mengoyak tubuhnya serta meremukkan daging dan tulang-tulangnya. Tiba-tiba suasana sedih tersebut hilang dengan terdengarnya suara nyanyian cabul dari tape mobil yang masih berputar. Salah seorang hadirin berusaha masuk ke sela-sela besi tersebut untuk mematikan nyanyian bodoh itu. Kemudian salah seorang yang melintas berteriak meminta pertolongan untuk mengeluarkan korban yang ada dalam mobil kedua di pinggir seberang jalan, lantas mereka pun bergegas ke sana.

Diantara besi-besi tersebut muncul suara dari seorang pemuda dalam keadaan antara hidup dan mati. Orang-orang yang hadir bahu membahu berupaya mengeluarkannya, hanya saja perasaan cemas dan khawatir hampir membuat lidah mereka kelu. Mereka mendengar suara yang jelas dan panjang yang diulang-ulang, ternyata ia membaca surah Al-fatihah secara lengkap. Jika bacaan tersebut selesai, ia akan kembali mengulangnya. Demikianlah pemuda itu terus membaca surat tersebut. Mereka menangis terisak-isak, kata-kata tertahan di antara dua bibir mereka dan air mata berlinang seraya mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Disaat itu tibalah mobil ambulan di tempat kejadian untuk membawa pemuda pertama ke kuburan dan melarikan pemuda kedua ke rumah sakit.

Baca lebih lanjut

JANTUNG BERHENTI SEDANGKAN LISANNYA MENGUCAP DUA KALIMAT SYAHADAT


Seorang wanita berusia 55 tahun masuk ruang pemeriksaan sebab terserang penyakit gagal jantung kronis yang membuat jantungnya terhenti.

Rekan-rekanku menghubungiku dan memintaku agar segera melihat kondisi wanita tersebut. Saat itu jam 7 pagi. Lantas aku bergegas ke ruang pemeriksaan dengan harapan semoga Allah menyembuhkan wanita tersebut melalui usahaku. Ketika aku tiba, ternyata jantungnya sudah berhenti berdetak. Maka aku segera melarikannya ke bagian alat pacu jantung agar  detak jantungnya kembali normal.

Disaat dilakukannya pemicuan dan rangsangan detak jantung, walau alat pengukur detak jantung menunjukkan detak jantung berhenti, namun aku menyaksikan suatu kejadian aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Tahukah anda kejadian apakah itu ?

Tiba-tiba wanita itu tersadar dan membuka kedua matanya bahkan ia dapat berbicara. Tetapi tahukah anda apa yang ia bicarakan ? Apakah dia berteriak, atau mengadu, atau meminta pertolongan, atau bertanya dimana suami dan anak-anaknya, atau berbicara tentang perkara yang berkaitan dengan urusan dunia?

Demi Allah tidak. Tetapi kalimat pertama yang aku dengar adalah kalimat tauhid yang agung : “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh”

Kemudian apalagi? Apa kira-kira menurut anda ?

Jantungnya kembali berhenti dan alat pengukur detak jantung kembali berbunyi menandakan bahwa jantungnya kembali berhenti. Aku kembali berusaha untuk memicu denyut jantungnya. Dan subhanallah….peristiwa itu kembali berulang. Ia membuka kedua matanya dan kembali mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh”.

Dapatkah anda mempercayaiku bahwa peristiwa ini terjadi berulang-ulang di depan mataku dan jantungnya berhenti tiga kali lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku tidak mendengar ucapan yang lain, tidak rintihan, tidak pengaduan dan tidak juga meminta benda dunia.

Aku hanya mendengar dzikir kepada Allah dan kalimat syahadat.

Setelah Ia meninggal-semoga Allah merahmatinya-aku melihat peristiwa aneh…wajah wanita itu memancarkan cahaya…apakah anda mempercayaiku ? Demi Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, wajahnya bersinar. Sungguh aku melihat cahaya yang memancar…demikianlah akhir dari hayat wanita tersebut.

Abu Mush’ab-semoga allah mengampuninya-berkata, “Ini merupakan tanda-tanda kematian yang baik insya allah”. Sesungguhnya allah berfirman,

“Allah meneguhkan (iman)orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (Q.S. Ibrahim:27)

Ini termasuk keteguhan yang diberikan Allah kepadanya yaitu mengucapkan syahadatain ketika sedang sekarat.

Dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan oleh abu Daud dan ahmad dari Mu’ad bin Jabal bahwa Rosulullah bersabda,

“Barangsiapa akhir ucapannya di dunia, La ilaaha illallah maka ia akan masuk syurga”

Kemudian tanda yang lain yaitu sinar dan cahaya yang memancar dari wajahnya. Pada hadits Thalhah bin Ubaidillah ketika dia sakit yang dijenguk Umar, dalam hadits tersebut disebutkan, “aku mendengar ucapan Rosulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk bertanya tentangnya selama aku masih mampu bertanya.”

Aku mendengar beliau bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat jika diucapkan oleh seorang hamba ketika meninggal niscaya tubuhnya bersinar, Allah akan melepaskannya dari siksaan”.

Umar berkata, “Sesungguhnya aku juga tahu kalimat itu”.

Thalhah mengatakan, “coba sebutkan kalimat tersebut”.

Umar berkata, “tidakkah engkau mengetahui kalimat agung yang diperintahkan Nabi kepada pamannya agar diucapkan ketika meninggal? Yaitu kalimat  ”la ilaha ilallah”.

Thalhah berkata, “Kamu benar. Demi allah itulah kalimatnya”.

Baca lebih lanjut

AIR MATA KEGEMBIRAAN


Kamar itu penuh dengan kaum wanita yang memberi selamat….Lihat teman-teman dan karib kerabatku. Semuanya memberi selamat dan mendoakan keberkahan.

“Semoga allah memberikan berkah kepada kalian berdua, dan memberkahi atas kalian berdua dalam kebaikan”.

Masing-masing mendoakan agar kami akur dan memiliki keturunan yang shalih.
Beberapa menit kemudian….
aku duduk seorang diri, menunggu siapa lagi yang akan datang. Air mata mengalir dari kedua mataku. Ketika aku teringat ibuku, kala ia mendoakan agar aku mendapat suami yang sholeh. Seolah-olah aku berada dalam mimpi. Bayangan membawa diriku kepada kejadian beberapa tahun yang lalu.
Pada pagi itu…
“Mana ibuku ? Kemana ia pergi ? Tanyaku. suaraku terdengar lebih keras dari besar tubuhku. Kala itu aku masih berusia 5 tahun. aku kembali bertanya : “Mana ibuku ?”.
Jawabannya adalah linangan air mata ada yang menambahkan dengan suara yang lemah karena terpotong tangisnya : “ia sudah pergi menuju syurga”.

Pada saat itu aku tidak menyadari, siapa yang membuat orang-orang jadi turut menangis. Aku, atau saudaraku yang masih berumur 3 tahun. Atau mungkin tangisan orang-orang disekitar kami ? Aku menuntun adikku untuk mencari ibu kami.

Kaki kami letih berlari kesana kemari. Naik ke tingkat paling tinggi,mengetuk semua pintu, juga pergi ke dapur. Meski sudah amat lelah, kami tidak juga mendapatkannya.

Dari situ, akupun yakin bahwa ibuku tidak berada di rumah. Akupun memeluk adikku sambil menangis. Karena lelahnya, kamipun tertidur.

Setelah 1 atau 2 jam, aku kembali menuntun adikku untuk kembali mengulang mencari ibu. Kami tidak mendapatkannya di rumah, meskipun banyak wanita di situ yang jumlahnya menutupi pandangan dan pendengaranku. Tetapi di mana ibu bersembunyi ? setelah lama terdiam dan terbungkam, dengan gembira aku teringat. Ada satu tempat yang belum kami cari. Iya, di bawah pohon itu.Ibuku mnyukai tempat itu Dengan cepat aku berlari, kami lelah menuruni tangga. adikku sampai terjatuh karena aku menariknya terlalu keras. akan tetapi akhirnya, kami hanya melihat pohon itu saja Kami perhatikan bagian atas pohon, bawahnya. Semua bagian pohon itu kutelusuri dengan pandanganku. Yang kulihat cuma pohon saja, ditambah beberapa tanaman yang disukai oleh ibu. Tetapi dimana ibuku ?

Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Aku melihat kaum lelaki saling memanggil. Memekakkan telingaku dan membuat mataku melotot.

Beberapa saat, terlihat langkah-langkah cepat. Mereka lewat di hadapan kami dengan menggotong sesuatu. Ketika adikku bertanya kepadaku, aku jawab pertannyaannya yang lugu itu : “Mereka membawa barang berat. Masing-masing ikut serta membawanya”. Aku sendiri tidak menyadari, bahwa yang digotong itu adalah ibuku ! Kalau aku tahu, pasti kupegang dan tak kubiarkan pergi.

Kaum lelakipun pergi menghilang. suasana menjadi hening.Kami duduk dan bermain-main di atas tanah dengan tenang. dibawah pohon, sebagaimana kebiasaan kami bersama ibu. Itulah hari pertama, kami pergi ke kebun tanpa mengenakan sepatu. Kami haus, tetapi tidak kami dapatkan air.

Tiba-tiba datanglah salah seorang wanita kerabat kami dan membawa kami masuk bersamanya.

Keesokan paginya, kami mulai membahas masalah itu di setiap tempat. Aku mengumpulkan kekuatanku dan berkata kepada adikku yang terus menangis : “ibu pasti pulang, pasti pulang lagi”.

Nenekku dengan tergopoh-gopoh datang ketika suara tangis kami mengeras. Ia memeluk kami. Aku masih merasakan air mata ibuku yang menetes di kepalaku.

Setiap kali kulihat seorang ibu, tercium olehku bau khas ibuku. Aku teringat, bahwa suatu hari ketika kami membuatnya marah. ia berkata : “aku akan pergi meninggalkan kalian”.

Aku juga masih ingat ketika kami pergi mengunjunginya di rumahsakit. Disamping pembaringannya, ayahku membimbingku. Ia berkata kepada ibu : “ini dia Arwa”. Ibu memelukku dan menciumku, kemudian memeluk adikku. Air matanya bercucuran, sambil menekan tanganku yang kecil dan menciumnya dengan kuat. Setiap hari, suaranya mengetuk pendengaranku. Suara terakhir yang kudengar darinya adalah : “Aku titipkan kalian berdua kepada Allah, yang tidak pernah menyia-nyiakan titipan di sisi-Nya”. Kenudian ia terisak menangis dan menutup wajahnya.

Mereka mengeluarkan kami dari kamarnya, sementara kami terus menangis, berlinang air mata. Kamipun muali berpibdah. Pindah dari rumah yang didalamnya terdapat ayah, ibu, juga saudara. Kini ia sudah pergi, maka kamipunb pergi.

Lima tahun kemudian…

Aku kembali ke rumah Ayahku. Datang dari rumah nenekku…Aku dan juga Adikku. 

Orang yang pergi karena kematian tidak dapat diharapkan kembali

Meskipun orang yang pergi melakukan perjalanan akan selalu kembali lagi

 Ternyata ada seorang wanita di rumah Ayahku.
“Ini adalah Asma. Berilah salam kepadanya..”

Ia bukan ibuku, tetapi ia adalah wanita yang paling baik bagi ayahku. Ia juga bertekad agar aku menyelesaikan studiku. Ia memulai dengan menganjurkan diriku menghafal Al-qur’an, memilihkan teman-teman yang sholihah untuk diriku, menyiapkan segala yang aku inginkan dan yang adikku inginkan, bahkan lebih dari pada itu. Terkadang kami sering membuatnya marah. Namun meski demikian, ia adalah wanita penyabar, lagi cerdas. Ia tidak menyia-nyiakan sedikitpun dari waktunya tanpa ada guna. Lisannya selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Ia menggabungkan antara kedalaman agama dan akhlak yang baik. Ia sungguh telah mengisi kekosongan hidup kami yang amat besar.

Berikut ini penjelasan dia tentang pergaulan yang baik, ketika pada suatu hari aku mengajukan peertanyaan kepadanya :

“Kenapa Anda berbeda dengan ibu-ibu tiri yang lain ? Dimana letak kezhaliman dan perlakuan buruk yang biasa dilakukan para ibu tiri itu dalam dirimu ?”

Ia menjawab : “Aku takut kepada Allah dan selalu mengharapkan pahala dari setiap perbuatanku. Kalian adalah amanah disisiku. Jangan heran. Sampai dengan merapikan rambut kalianpun aku mengharapkan pahala. Kemudian wahai arwa, berapa juz Al-qur’an yang telah engkau hafal ? Bukankah aku juga mendapatkan pahala dengan hafalnmu itu, insyaAllah ?Bukankah aku juga mendapatkan pahala dengan mendidikmu melalui pendidikan yang baik ?”

“Semua yang kulakukan adalah demi mendapatkan keridhoan allah”. Ia menambahkan : “Sebagaimana seseorang mencari pahala dengan ibadah seperti puasa, sholat, ia juga mencari pahala dalam pergaulannya. Seorang mukmin, selalu dituntut untuk bergaul dengan baik, wahai putriku..”. “Tetapi kami telah melelahkanmu, bahkan menyulitkan dirimu ?” Potongku. “Wahai arwa, setiap pekerjaan pasti membawa kelelahan dan kepayahan. Surga itu mahal. Bukankah engkau mengetahui, bahwa untuk sholat dan melakukan haji seseorang juga harus merasa lelah ?”. Allah berfirman :

“Barangsiapa yang beramal kebajikan sebesar biji dzarrohpun, ia pasti melihatnya. Dan barangsiapa yangberamal keburukan sebiji dzarrohpun, ia pasti melihatnya”.(Q.s. Al-humazah : 7-8 )

“Adapun kezhaliman ibu tiri yang engkau ketahui wahai arwa, tidaklah berlalu tanpa perhitungan. Bahkan akan mendapatkan perhitungan yang berat. apa dosa anak kecil, sehingga ia diperas ? Kezhaliman akan menjadi kegelapan di hari kiamat nanti”.

Aku berkata kepadanya sedangkan perasaan terharu mencekik leherku. Inilah doa ibuku, yang kulihat tampakdalam perlakuanmu terhadap kami. “Sungguh allah tidak menyia-nyiakan titipan di sisi-Nya”.

Tiba-tiba, pintu rumah diketuk….

Ibu tiriku masuk dan memberi salam kepadaku serta mendoakan keberkahan bagiku. aku mencium kepalanya. Bagiku, ia lebih dari segalanya.

Ia adalah profil bagi wanita muslimah.

Ia berkata dengan air mata yang mengiringinya : “Jangan lupa untuk mengharapkan pahala dari allah dalam setiap pekerjaan yang engkau lakukan”. Kemudian ia menambahkan dengan senyuman yang selalu mengiringinya : “Sungguh aku hafal hadist Nabi” :

 “Bila seorang wanita menjalankan sholat 5 waktu, melakukan puasa, memelihara kemaluannya dan mentaati suminya, akan dikatakan kepadanya : “Masuklah engkau dari pintu Surga manapun yang engkau kehendaki”.

 Sekarang, tibalah saat mempraktekkannya. Aku berkata kepada diriku sendiri : “sungguh ayahku tidak keliru ketia ia menikahi seorang wanita yang sholihah. sungguh ayahku tidak keliru ketika ia menikahi wanita yang takut kepada Allah”.

 

Doa


Segala yang tampak tidak akan kekal keindahannya
Yang kekal hanyalah allah, sementara harta dan anak akan binasa………….

Aku sudah menikah lebih dari 7 tahun. Alhamdulillah segala yang aku dambakan-sesuai pandanganku- sudah aku dapatkan. Aku sudah mapan dalam pekerjaan, dan sudah mapan dalam perkawinanku…Yang kukeluhkan hanyalah rasa bosan. Aku dan istriku belum juga dianugrahi seorang anak. Akupun mulai diliputi kejemuan.

Aku sudah banyak mengunjungi dokter. Aku yakin bahwa aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Akupun berobat di dalam dan di luar negeri. Ketika aku mendengar ada seorang dokter spesialis kemandulan baru datang, aku segera memesan waktu konsultasi.

Berbagai kiat banyak diberikan, sementara obat-obatan lebih banyak lagi. Namun tidak ada gunanya sama sekali. Lebih sering kami berbicara tentang dokter anu dan Anu, apa yang dia katakana dan apa yang akan kami alami.

Masa menunggu itu terus berlangsung hingga setahun atau dua tahun. Masa pengobatan itu lama sekali. Ada yang menyatakan bahwa kemandulan itu berasal dari diriku. Namun sebagian lain menyatakan bahwa itu berasal dari istriku. Pokoknya, hari-hari kami hanya diisi dengan pemeriksaan dan pemecahan problem tersebut.

Bayangan tentang anak begitu menguasai jiwa kami. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menyentuh perasaan istriku. Namun segala yang berlangsung tetap mengusik perasaannya. Banyak pertannyaan yang muncul. Ada yang bertanya kepadanya : “Apa lagi yang kamu tunggu?” Seolah urusan itu berada di tangan istriku. Ada lagi yang menyarankan agar ia berobat kepada dokter Anu di lokasi Anu. Fulanah sudah mencoba ke sana, dan kini sudah melahirkan anak. Demikian juga si fulanah. Begitulah, orang-orang di sekitar istriku memiliki banyak andil dalam melontarkan pertannyaan. Namun tak seorangpun yang berkata kepada kami : “Kenapa tidak menghadap kepada Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan ?”

Berlalulah sudah 7 tahun, kami seolah menjulurkan lidah di belakang para dokter dan lupa berdoa. Kami lupa berserah diri kepada Allah.

Pada suatu sore, aku menyebrang jalan. Tiba-tiba kulihat seorang lelaki buta menyebrang jalan yang sama. Aku segera menuntunnya dan menyebrang separuh jalan bersamanya. Di tengah jalan, kami berhenti. Kami menunggu sampai bagian jalan di seberang menjadi agak sepi dari kendaraan. Lelaki itu menyempatkan untuk bertanya kepadaku, setelah sebelumnya mendoakan diriku agar sehat dan mendapat taufiq. ”anda sudah menikah?” “sudah”. Jawabku. Ia bertanya lagi : ”Sudah punya anak?” “Allah belum menakdirkannya.” Jawabku kepadanya. “sudah 7 tahun kami menunggu kabar gembira itu.”

Kamipun menyebrang jalan. Ketika kami hendak berpisah, lelaki itu berkata : ”Wahai anakku. Aku sudah pernah mengalami apa yang engkau alami. Namun dalam setiap sholat aku berdoa :

“Rabbi, janganlah Engkau meninggalkanku seorang diri, sementara Engkau adalah sebaik-baiknya yang memberikan warisan.” (Q.s. Al-anbiya : 89)

Alhamdulilah kini aku sudah memiliki  7 orang anak.” Lelaki tua itu menekan tanganku sambil berkata : ”jangan lupa berdoa”. Sebelumnya aku tidak mengharapkan nasihat seperti itu. Aku sudah mendapatkan sesuatu yang hilang.

Aku menceritakan kejadian itu kepada istriku. Kamipun tertarik memperbincangkannya. Kenapa selama ini kami tidak berdoa ? Padahal segala sesuatu sudah kami cari dan sudah kami coba ? Semua dokter sudah kami dengarkan ucapannya dan sudah pernah kami ketuk pintu rumahnya ? Kenapa kami tidak pernah mengetuk pintu Allah ? Padahal itulah pintu terbesar dan pintu terdekat ? Istriku juga baru ingat bahwa ada wanita tua yang pernah menasehatinya 2 tahun yang lalu : ”Hendaknya engkau berdoa”.

Namun, sebagaimana dikisahkan istriku, kala itu kami sudah memiliki banyak jam konsultasi bersama banyak dokter. Sehingga kami sudah terbiasa mengkonsultasikan persoalan kami dengan para dokter tersebut. Tanpa rasa khawatir atau gelisah, hanya sebatas konsultasi saja. Kami hanya menyelidiki cara penyembuhan yang terbatas saja, sebagai salah satu ihtiar.

Kamipun menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati. Dalam sholat wajib dan juga dalam sholat di tengah malam. Kami berusaha mencari waktu-waktu di mana doa mudah terkabulkan. Persangkaan kami tidaklah sia-sia. Kamipun juga tidak ditolak. Bahkan Allah membuka pintu keterkabulan doa. Istriku hamil, dan akhirnya melahirkan seorang anak. Sungguh Maha Suci Allah, sebaik-baik pencipta.

Kami tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan suka cita. Namun kini yang selalu kami baca berulang-ulang ialah :

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (Q.s. Al-Furqon : 74)

(Taken from : Abdul Malik Al-qosim. Kumpulan Kisah Nyata Perjalanan Hidayah)